Selasa, 15 Oktober 2013

Cantik Juga Petaka?

bercerita temanku tentang kawan temannya
katanya dimana-mana ada pacarnya
ikat satu simpul sembilan
lepas tiga tidaklah mengapa

aku tak tahu apakah benar
ini kudapat disimpang jalan
kata yang tak pantas aku cetuskan
cantik itu juga petaka

awalnya kamu tidak menduga
karena cinta itu bukan pengorbanan
pemberian adalah perwujudan rasa
hingga yang wajar tidak terlihat batas

coba kau pikir sekali lagi
apakah cinta memang begitu
membangun hasrat dijalan sesat
menggadaikan nurani menjilat amanah

bukankah kau diberkahi rupa yang jelita
dititipkan hati penggugah rasa
lalu mengapa kau yang jadi pilihan
bukankah ini tipuan khas sihidung belang

andaikan saja kamu bukan kamu yang sekarang
yang punya bibir seksi body aduhai
mata melotot ketika melirik
kuyakin kau bukanlah pilihan

aku tak tahu apakah benar
ini kudapat disimpang jalan
kata yang tak pantas aku cetuskan
cantik itu juga petaka






Senin, 14 Oktober 2013

Pahlawan (Katanya)

kamu yang nyata dalam pandangan
yah... kamu benar-bena nyata
kamulah yang pahawan
bukan mereka yang katanya pahlawan
pembawa perubahan tumpuan harapan

semua mata terpukau melihat aksimu
bagaikan oase pembawa kehidupan
disaat Bangsa dilanda gersang
gersang yang tercipta oleh sipemangku jabatan

tidak seperti mereka yang katanya akademis
tidak seperti mereka yang katanya ahli hukum
tidak seperti mereka yang katanya pengusaha
tidak seperti mereka yang katanya pejabat

ocehan benar kalau teoritis
semua kebijakan dikapitalis
perjuangan katanya tuk wong cilik
terkadang keputusan dipolitisir
ketika salahpun juga paling reaktif
akhirnya ketangkap jadi breaking news

beruntung kamu bukam mereka
hingga sesaat luka terobati, haus terpuaskan
juga derita sekilas terabaikan
kamu datang sebagai pelipur lara

bahkan sang "pemimpin galau" juga mengaminkan
katanya terimakasih kau kembali mengharumkan nama bangsa Indonesia
gimik yang biasa kita saksikan, dari sang pemimpin yang katanya merkyat
aku tidak tahu mengapa, mungkinkah ini cara penggugur dosa?

kamulah yang pahlawan, pahlawan sesungguhnya
bukan mereka yang katanya pahlawan
teruslah kau untuk berjaya
membawa Sang Garuda membumbung jauh

Minggu, 13 Oktober 2013

Koruptor

tak ada lagi yang pantas untukmu
karena  yang pantas bukan lagi untukmu
tanyakan saja pada alam
namamu kini tidak lagi disana

ketika kata tidak lagi cerminkan rasa
ketika iman  dijamah serakah
maka dusta berubah fakta
dan semua dosa terasa nikmat

yang keluar dari mulutmu bukan lagi kata
yang ada ditatapanmu bukan lagi harapan
yang kamu ciptakan hanyalah kamuflase
ibarat katak yang hidup didua alam

hei kau para koruptor
ulahmu coreng citra bangsa
mengubur cita  proklamator
mengkhianati semangat perjuangan

tak ada lagi yang pantas untukmu
karena  yang pantas bukan lagi untukmu
tanyakan saja pada alam
namamu kini tidak lagi disana





Kamis, 10 Oktober 2013

Puisi Jiwa

bahasa hati adalah bahasa rasa
memandangi lampau menyusuri jejak
disana tertoreh bercak warna-warna
dalam rentang waktu disuatu ketika aku terjaga

perjuangan dalam memecah hati adalah kepayahan
dengan kesadaran pula aku mengerti
karena itulah aku akan memilih

tapi aku pandangi rasa,
ternyata  air mata mengalir pula disana,dikuil cinta,
ah, ada apa gerangan?
mungkinkah aku tertipu rasa?

dia menangis karena sebagian dunia telah pergi darinya
dan keangkuhan yang melekat kuat  dinding hatinya
dan aku bertanya mungkinkah dia tertipu rasa?

oh kebenaran, apakah dia  rasa?
tidak, aku mematung dihadapan pertanyaan,
aku telah mendengar banyak perkataan
aku akan pilih yang terbaik diantaranya
namun adakah yang lebih baik dari kalam tuhan?


Rabu, 09 Oktober 2013

Jangan Menunda

satu lagi pelajaran hari ini
tentang waktu yang penuh arti
satu lagi pelajaran hari ini
darimu kasih penyemangat hati

sempat  teracuh karena ego
hirauku berpaling kepada yang kosong
bodoh atau peduli tetap kamu mengingatkan
sukses itu bukan karena menunda

kuuraikah kisah ini untukmu kawan
agar tak sepertiku yang sempat tersesat



Yakin Juga Ragu

seperti mentari yang dikubur senja
memudarkan sinarnya yang begitu tajam
seperti awan yang diusir hujan
memutus gumpalannya yang sekilas kokoh

seperti itulah gejolak didada
aku yakin juga ragu

ketika cinta menggelorakan jiwa
ketika kata menyentuh rasa
kuyakin disanalah hati bermuara
membangun istana cinta fatamorgana

tapi mengapa jiwa melihat awan
juga mengapa  mentari dirasakan hati
apakah ini pertanda akan  hujan?
apakah ini pertanda senja kan datang?

seperti itulah gejolak didada
aku yakin juga ragu

Terlambat

kurasa hari mulai membosankan
tak ada beda kemarin dan sekarang
terulang dan terus terulang
kuyakin sang waku juga merasakan

pernah kucoba memutar arah jarum jam
melawan takdir ketetapan tuhan
sampai akhirnya kusadari jam terus berdetak
mengikuti arahnya mengacuhkanku

kasihmu bijak tak kudengar
tulusmu ikhlas tak kuanggap
gelisahmupun kini kurasakan
datang menghakimi masa

kini  hari terus membosankan
tanpa kasihmu hanya kehampaan